Monday, October 23, 2017

mungkin ada yang bertanya Apa itu Properti syariah?? yuk kita bahas sedikit mudah-mudahan bermanfaat :-)

janganlupa baca dahulu " Bismillahirrahmanirrahim "

properti syariah

Alhamdulillah pada jaman skarang kesadaran Masyarakat akan konsep ekonomi syariah semakin berkembang. Sekarang semakin banyak kegiatan-kegiatan yang berbau islami, mudah-mudahan ini semua adalah tanda-tanda kebangkitan kembali islam di hati kita semua dan keimanan kita semua semakin kuat.

Tak luput pula sektor perekonomian dan bisnispun mulai tersentuh dakwah ini. Terlihat sistem ribawi di perbankan yang dulu menjadi satu-satunya pilihan permodalan, ternyata kini telah banyak dikritisi dan telah banyak opsi lain yang syar'i. Salah satu yang mulai ngetrend sejak tahun 2015 adalah property syariah.
Ingat yaaa!! Bukan property yang dibiayai melalui perBankan atau lembaga keuangan syariah lainnya!
Property Syariah dan atau KPR Syariah yang dimaksud disini yaitu skema kepemilikan rumah dengan akad-akad yg sesuai syariah tanpa riba. KPR Syariah bukan bicara tentang konsep hunian semisal yang didalam perumahannya dibangun masjid, sekolah tahfidznya, dan ada pengajian warganya dan lain sebagainya. Namun lebih ke cara kepemilikan Rumah / hunian itu sendiri.

Banyak perbedaan antara property syariah dengan property yang berjalan saat ini (atau kita sebut 'property konvensional'). Baca : Perbedaan property syariah dengan property konvensional.

Hal utama yang membedakan adalah dari aspek akad dan skema bisnis. Dalam property syariah, konsumen langsung membeli rumah kepada pihak developer, tanpa adanya pihak ketiga yang terlibat, sebagaimana dalam skema konvensional, ada pihak bank sebagai pihak ketiga. Jadi murni transaksi yang terjadi antara konsumen dan developer adalah transaksi bisnis jual beli, baik secara cash maupun kredit.

Instrumen yang digunakan developer property syariah dalam istilah fiqih dikenal dengan istilah isthisna'. Ringkas bisa dijelaskan, bahwa istishna itu adalah skema pesan bangun. Skema ini salah satu skema bisnis yang diperbolehkan dalam syariat, di samping skema-skema bisnis yang lain, semisal murabahah, salaam, dan lain-lain. Dalilnya adalah Rasul pernah memesan secara istishna kepada sahabat agar dibuatkan cincin dan mimbar. Sehingga ketika konsumen hendak membeli rumah, rumah tersebut bersifat indent. Tentu bisa menjadi fasilitas bagi konsumen untuk melakukan customize design rumah yang dipesannya.

Hal ini juga bukan berarti bahwa semua developer property syariah menerapkan skema isthisna ini. Ada juga yang langsung menerapkan skema jual beli. Artinya rumah yang diinginkan konsumen telah tersedia, ready stock. Konsumen tinggal memilih mau membeli secara cash atau kredit (KPR). Ketika berakad, maka disepakati 1 harga yang dipilih, apakah itu cash, KPR selama 5 tahun, 10 tahun ataukah selama 15 tahun. Harga yang disepakati di depan ini, saat akad, nilainya tetap dan tidak berubah-ubah. Tidak ada hubungannya dengan suku bunga dan kondisi ekonomi. Sehingga cicilannya pun bersifat flat (cicilan tidak berubah-ubah).

Developer property syariah pun menerapkan skema tanpa sita dan tanpa denda. Artinya jika konsumen dikarenakan satu dan lain hal tidak mampu membayar cicilan pada bulan berjalan, maka konsumen diwajibkan memberitahu pihak Developer, agar developer bisa memberikan kebijakan tertentu yg terbaik bagi kedua belah pihak tanpa ada denda atau pinalty apapun.

Adapun skema tanpa sita maksudnya jika konsumen di tengah perjalanan tahun cicilan berjalan tidak sanggup lagi melanjutkan cicilan pelunasan pembelian rumah, maka pihak developer tidak akan melakukan penyitaan terhadap rumah yang sudah dibeli, karena hal itu termasuk akad bathil (akad sewa dan jual atau 2 akad dalam 1 transaksi, menjaminkan barang yg diperjual belikan, jual beli bersyarat). Solusinya, pihak developer dan konsumen wajib untuk duduk bersama mencari solusi terkait masalah ini. Misal developer meminta pembeli untuk membatu penjualan rumah lain milik developer sehingga marketing fee bisa dingunakan untuk membayar cicilan, atau solusi terakhir atas kemauan sendiri, konsumen meminta kepada pihak developer atau pihak konsumen sendiri yang menjual rumah yang sudah dibeli. Hasil penjualan rumah tersebut digunakan terlebih dahulu untuk melunasi hutang konsumen kepada developer, adapun kelebihannya dimiliki sepenuhnya oleh pihak konsumen.


0 comments:

Post a Comment

VISITOR

Project Property Syariah

Ikuti kami di facebook